Non Destructive Test (NDT)

Posted on


Non destructive test (NDT) merupakan inspeksi terhadap peralatan untuk mengetahui adanya cacat, retak atau discontinuity lain tanpa merusak peralatan yang kita tes. Tes ini bertujuan untuk menjamin bahwa peralatan yang kita tes belum melewati damage tolerance. Peralatan-peralatan yang mempunyai resiko tinggi seperti material pesawat, pembangkit listrik dan lain lain diusahakan semaksimal mungkin tidak mengalami kegagalan (failure) selama masa penggunaannya. NDT dilakukan pada dua tahap yaitu pada tahap fabrikasi dan pada saat penggunaannya. NDT pada saat fabrikasi merupakan bagian dari kendali mutu komponen dan juga dijadikan sebagai acuan dalam menentukan parameter dan kondisi yang optimal pada saat penggunaannya. Kedua, NDT dilakukan setelah komponen digunakan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah mengetahui seberapa jauh kegagalan partial sebelum melampaui damage tolerancenya. Berikut adalah beberapa metode utama dalam NDT :

Visual Inspection

Material material yang mengalami kegagalan secara visual sangat mudah untuk diketahui khususnya peralatan-peralatan yang secara kasat mata dapat diketahui dengan mudah. Langkah ini merupakan langkah yang pertama kali diambil dalam NDT. Metode ini bertujuan menemukan cacat atau retak permukaan dan korosi. Dalam hal ini tentu saja adalah retak yang dapat terlihat oleh mata telanjang atau dengan bantuan lensa pembesar ataupun boroscope.

Liquid Penetrant Test

Metode Liquid Penetrant Test merupakan metode NDT yang paling sederhana. Metode ini digunakan untuk menemukan cacat di permukaan terbuka dari komponen solid, baik logam maupun non logam, seperti keramik dan fiber. Penggunaan keramik seperti pengecekan pada isolator pada trafo-trafo. Melalui metode ini, cacat pada material akan terlihat lebih jelas. Caranya adalah dengan memberikan cairan berwarna terang pada permukaan yang diinspeksi. Cairan ini harus memiliki daya penetrasi yang baik dan viskositas yang rendah agar dapat masuk pada cacat di permukaan material. Selanjutnya, penetrant yang tersisa di permukaan material dibersihkan. Cacat akan nampak jelas jika perbedaan warna penetrant dengan latar belakang cukup kontras. Seusai inspeksi, penetrant yang tertinggal dibersihkan dengan penerapan developer.

Kelemahan dai metode ini antara lain adalah bahwa metode ini hanya bisa diterapkan pada permukaan terbuka. Metode ini tidak dapat diterapkan pada komponen dengan permukaan kasar, berlapis atau ber pori.

Magnetic Particle Inspection

Dengan menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) suatu komponen dari bahan ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang digunakan untuk mendeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik di permukaan. Partikel – partikel tersebut akan berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet.

Kelemahan dari metode ini hanya bisa diterapkan untuk material ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir inspeksi.

Eddy Current Test

Inspeksi ini memanfaatkan prinsip elektromagnetik. Prnsipnya, arus listrik dialirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet didalamnya. Jika medan magnet ini dikenakan pada benda logam yang akan diinspeksi, maka terbangkit arus Eddy. Arus Eddy kemudian menginduksi adanya medan magnetik. Medan magnet pada benda akan berinteraksi dengan medan magnet pada kumparan dan mengubah impedansi bila ada cacat.

Kekurangan dari metode ini adalah hanya dapat diterapkan pada permukaan yang dapat dijangkau, harus dibuat dulu material referensi yang sama baik dimensi maupun dari bahan yang sama persis dengan peralatan yang mau diukur, dibutuhkan ketrampilan dan pengalaman yang banyak dalam pengujiannya, memerlukan waktu yang rlatif lama. Selain itu metode ini juga hanya diterapkan pada bahan logam saja.

Ultrasonic Inspection

Prinsip yang digunakan adalah prinsip gelombang suara. Gelombang suara yang dirambatkan pada spesimen uji dan sinyal yang ditransmisi atau dipantulkan diamati dan interpretasikan. Gelombang ultrasonik yang digunakan memiliki frekuensi 0.5 – 20 MHz. Gelombang suara akan terpengaruh jika ada void, retak atau delaminasi pada material. Gelombang utrasonik ini dibangkitkan oleh transduser dari bahan piezoelektrik yang dapat merubah energi listrik menjadi energi getaran mekanik kemudian menjadi energi listrik lagi.

Radiographic Inspection

Metode NDT ini dapat untuk menemukan cacat pada material dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma. Prinsipnya, sinar X dipancarkan menembus material yang diperiksa. Saat menebus objek, sebagian sinar akan diserap sehingga intensitasnya berkurang. Intensitas akhir kemudian direkam pada film yang sensitif. Jika ada cacat pada material maka intensitas yang terekam pada film tentu akan bervariasi. Hasil rekaman pada film ini lah yang memeperlihatkan bagian material yang mengalami cacat.

Standar Pembacaan Kode Bearing

Posted on Updated on


Bearing merupakan komponen mesin yang berfungsi untuk mempermudah gerakan rotari dari mesin. Komponen yang merupakan tempat bertemunya komponen yang berputar dengan komponen mesin yang statis. Bearing merupakan komponen mesin yang sering diganti sehingga sangat penting untuk mengetahui standart pembacaan dari kode bearing tersebut. Hanya dengan melihat diameter shaft dan tipe bearingnya yang digunakan kita dapat menentukan kode bearingnya. Pengetahuan ini juga sangat penting untuk keperluan desain mesin sehingga kita dapat membuat desain shaft dengan standart bearing yang ada. Berikut adalah bagaimana standart pembacaan kode bearing.

Bearing atau bahasa indonesianya disebut bantalan merupakan  komponen utama penggerak poros yang berputar. Bearing ( Bantalan ) banyak jenis macamnya, mulai dari bantalan bola ( ball bearing), bantalan jarum (needle bearng), bantalan gesek dan lain sebagainya.

Nah kali ini saya akan membahas sedikit tentang pengkodean bearing utamanya pada ball bearing yang mungkin lebih sering kita jumpai pada kendaraan  kita sehari-hari.

Coba saya beri contoh mengenai pengkodean bearing ( biasanya kode beairing terbaca di lingkaran bearing ) sebagai berikut :

Kode bearing (bantalan) = 6203ZZ

kode bearing di atas terdiri dari beberapa komponen yang dapat dibagi-bagi antara lain:

6 = Kode pertama melambangkan Tipe /jenis bearing

2 = Kode kedua melambangkan seri bearing

03 =Kode ketiga dan keempat melambangkan diameter bore (lubang dalam bearing)

zz = Kode yang terakhir melambangkan jenis bahan penutup bearing

a. Kode Pertama ( Jenis Bearing )

Kode

Tipe Bearing

Gambar

1

Self Aligning Ball Bearing

 bearing mesin diesel 1

2

Spherical Roller Bearing

 bearing mesin diesel 2

3

Double Row Angular Contact Ball Bearing

 bearing mesin diesel 3

4

Double Row Ball Bearing

 bearing mesin diesel 4

5

Thrust Ball Bearing

 bearing mesin diesel 5

6

Single Row Deep Groove Ball Bearing

 bearing mesin diesel 6

7

Single Row Angular Contact Bearing

 bearing mesin diesel 7

8

Felt Seal

 bearing mesin diesel 8

32

Tappered Roller Bearing

 bearing mesin diesel 9

R

Inch (Non Metric Bearing)

Jenis Bearing

N

Cylindrical Roller Bearing

 bearing mesin diesel 10

NN

Double Row Roller Bearing

 bearing mesin diesel 11

NA

Needle Roller Bearing

jadi dalam Kode bearing (bantalan) = 6203ZZ  seperti contoh di atas, kode pertama adalah angka 6 yang menyatakan bahwa tipe bearing tersebut adalah Single-Row Deep Groove Ball Bearing ( bantalan peluru beralur satu larik).

Perlu diingat bahwa kode di atas untuk menyatakan pengkodean bearing dalam satuan metric jika anda mendapatkan kode bearing seperti ini = R8-2RS, maka kode pertama ( R) yang menandakan bahwa bearing tersebut merupakan bearing  berkode satuan inchi.

b. Kode kedua ( Seri bearing)

Kalau kode pertama adalah angka maka bearing tersebut adalah bearing metric seperti contoh di atas (6203ZZ ), maka kode kedua menyatakan seri bearing untuk  menyatakan ketahanan dari bearing tersebut. Seri penomoran adalah mulai dari ketahan paling ringan sampai paling berat

  • 8 = Extra thin section
  • 9 = Very thin section
  • 0 = Extra light
  • 1 = Extra light thrust
  • 2 = Light
  • 3 = Medium
  • 4 =  Heavy

Kalau Kode pertama adalah Huruf, maka bearing tersebut adalah bearing Inchi seperti contoh (R8-2RS ) maka kode kedua ( angka 8 ) menyatakan besar diameter dalam bearing di bagi 1/16 inchi atau = 8/16 Inchi.

c. Kode ketiga dan keempat ( diameter dalam (bore) bearing)

Untuk kode 0 sampai dengan 3, maka diameter bore bearing adalah sebagai berikut :

  • 00 = diameter dalam 10mm
  • 01= diameter dalam 12mm
  • 02= diameter dalam 15mm
  • 03= diameter dalam 17mm

selain kode nomor 0 sampai 3, misalnya 4, 5 dan seterusnya maka diameter bore bearing dikalikan dengan angka 5 misal 04 maka diameter bore bearing = 20 mm

d. Kode yang terakhir (jenis bahan penutup bearing)

Ok, jadi kita sudah sampai pada pengkodean terakhir. pengkodean ini menyatakan tipe jenis penutup bearing ataupun bahan bearing. seperti berikut :

  1. Z Single shielded ( bearing ditutuipi plat tunggal)
  2. ZZ Double shielded ( bearing ditutupi plat ganda )
  3. RS Single sealed ( bearing ditutupi seal karet)
  4. 2RS Double sealed (bearing ditutupi seal karet ganda )
  5. V Single non-contact seal
  6. VV Double non-contact seal
  7. DDU Double contact seals
  8. NR Snap ring and groove
  9. M Brass cage

maka bearing 6203ZZ menyatakan bearing dengan tipe ditutupi plat ganda.

Inventory Bidang Pembangkitan

Posted on Updated on


Inventory adalah bagian dari managemen material yang mempunyai fungsi  kontrol terhadap material sehingga menghasilkan keadaan yang seimbang dalam proses produksi. Khusus untuk bidang pembangkitan, inventory adalah bidang yang bertugas untuk mendukung kesiapan unit pembangkit dalam proses produksi pembangkitan listrik. Di bawah ini adalah Diagram Proses Bisnis Pembangkitan :

Gambar 1. Diagram Proses Bisnis Pembangkitan

Alasan / tujuan dalam menerapkan kebijakan pengendalian persediaan adalah sebagai berikut :

1. Keseragaman pengelolaan persediaan di seluruh unit pembangkitan.

2. Mengelompokkan material persediaan sesuai dengan kriteria yang  sejenis berdasarkan kriteria kekritisan, ketersediaan dan usage, sehingga kita dapat memberikan perlakuan / pengendalian yang

berbeda sesuai dengan kriteria stok material.

3. Untuk mengetahui bagaimana stock item material dikontrol, kapan harus dipesan dan seberapa banyak harus dipesan dengan cara menggunakan alat bantu analisa ABC dan seting ROP / ROQ. Dimana ROP singkatan dari Re Order Point adalak stok akhir minimal material harus dilakukan pengadaan kembali. Sedangkan ROQ singkatan dari Re Order Quantity yaitu jumlah pemesanan dalam pengadaan kembali. Besaran ROP maupun ROP berdasarkan dari kekritisan material, ketersediannya di pasaran, maupun nilai penggunaan dalam periode 1 tahun.

Menggunakan salah satu fungsi analisa ABC untuk mengetahui apa dan bagaimana material dikontrol, sedangkan seting ROP/ROQ digunakan untuk menjawab kapan dan berapa banyak stok item material harus dipesan.

4. Dicapainya titik setimbang di manajemen persediaan yakni memaksimumkan service level, meminimumkan nilai persediaan.

Alasan ke 4 adalah puncak dari target pengelolaan inventory dalam bidang pembangkitan.

Karena pembangkit seperti PLTU mempunyai peralatan yang sangat banyak dengan ratusan komponen yang ada pada unit PLTU dengan berbagai macam manufaktur, sehingga sangat diperlukan keahlian dalam pengelolaan material baik material dengan part number, material umum, maupun material distribusi.

Material dengan part number

Material jenis ini merupakan material dengan karakteristik material spesifik dan juga merupakan produk dari sebuah manufacturer / pabrikan yang mempunyai part number tertentu. Part number memudahkan kita untuk mendefinisikan sebuah material, sehingga akan mempermudah dalam pengadaan suatu material di suatu unit pembangkitan. Biasanya hanya dengan mendefinisikan nama item material, manufacturer, tipe dan juga part number sudah dapat ditentukan spesifikasi yang mewakili material tersebut.

Material Umum

Material jenis ini biasanya mempunyai spesifikasi yang umum, sehingga banyak pabrikan yang dapat memproduksi  material ini. Cara penamaan material ini diperlukan atribut yang panjang sehingga dapat mendefinisikan materil tersebut secara tepat. Misalnya baut, maka diperlukan atribut diameter baut, materialnya, panjang baut, spesifikasi ulir dan bentuk kepala baut.

Material distribusi

Material jenis ini merupakan material yang akan habis ketika proses produksi listrik berlangsung. Seperti pada PLTU maka yang termasuk material jenis ini adalah batubara, BBM, minyak pelumas, grease dan lain sebagainya.

Dalam pengelolaan material dengan ketiga jenis tersebut harus dilakukan secara berbeda sesuai dengan karakteristiknya. Kita dapat membedakan karakteristik material di atas dengan bantuan analisa ABC. Dimana analisa ABC ini akan digunakan untuk tiga kategori yaitu : pertama material akan dibedakan berdasarkan sifat kekritisan, kedua material ketersediaan dan ketiga material berdasarkan nilai kegunaan.

Material Berdasarkan Kekritisannya

Material berdasarkan kekritisannya maksudnya adalah seberapa besar material tersebut berdampak jika material tersebut mengalami kegagalan atau kerusakan. Dalam proses bisnis pembangkitan dapat kita bagi menjadi tiga kategori yaitu :

  1. A.      Level A, jika material menyebabkan trip unit sehingga proses pembangkitan listrik berhenti total. Material ini dapat kita telusuri dengan cara analisa penyebab terjadinya trip. Atau dengan kata lain kita dapat telusuri dengan proteksi pada pebangkitan yang akan menyebabkan trip. Trip itu sendiri bertujuan untuk menjaga keselamatan pekerja, unit pembangkit secara keseluruhan dan juga lingkungan sekitar, untuk menghindari dampak kerugian yang sangat besar. Diperlukan pengalaman dan koordinasi dari ahli pembangkitan dari bagian pemeliharan mekanik, listrik, maupun instrument dalam menentukan material-material yang masuk dalam kategori kekritisan A. Penentuan material-material tersebut sangat diperlukan berkaitan dengan potensi kerugian yang begitu besar ketika material tersebut rusak dan tidak tersedianya material tersebut akan berakibat tidak beroperasinya unit pembangkit. Apalagi ditambah dengan ketersedian yang sulit akan menambah sangat besarnya potensi kerugian yang akan ditimbulkan. Maka untuk menghindarinya diperlukan minimum stock untuk material –material ini.
  2. B.      Level B, jika material tersebut akan mengakibatkan penurunan kapasitas produksi secara signifikan tetapi tidak sampai menimbulkan trip unit. Material ini biasanya berkaitan dengan equipment dengan pengoperasian dua equipment atau lebih saat operasi dengan beban penuh. Contoh dalam PLTU, menggunakan dua pulverizer dalam operasi beban penuh, maka material yang ada tersebut bisa dikategorikan material dengan kategori kekritisan B.
  3. C.      Level C, jika material ini tidak berdampak pada trip unit maupun derating. Material jenis ini umumnya dapat dilakukan kontrak payung dalam pengadaannya dan tidak perlu dilakukan stok yang ketat.

Material Berdasarkan Ketersediannya

Ketersedian suatu material merupakan salah satu dari tiga kategori dalam analisa ABC. Karena akan mempengaruhi proses pengadaan material atau jasa. Berdasarkan ketersedianya material dapat dikategorikan menjadi :

  1. A.      Level A, yaitu material yang dalam proses pengadaannya memerlukan waktu yang sangat lama lebih dari 90 hari. Sebelumnya perlu kita ketahui istilah yang berkaitan dengan waktu pengadaan yaitu Lead Time.

Internal Lead Time

Internal Lead Time merupakan waktu yang diperlukan dalam proses pengadaan yang terkait kebutuhan proses adminitrasi pada internal perusahaan. Mulai dari evaluasi pengadaan yang dilakukan oleh inventory, kemudian konfirmasi harga oleh tim Rencana Anggaran Biaya (Tim RAB), terus approval yang dilakukan oleh manajemen, dan proses negosiasi oleh panitia pengadaan, serta proses quality control dan pemeriksaan oleh logistic.

External Lead Time

External Lead Time adalah waktu yang diperlukan oleh suplayer material dalam pengadaan sampai material di gudang.

  1. B.      Level B, yaitu material yang proses pengadaanya dengan waktu sedang sekitar 30 hari sampai maksimal 90 hari. Material dalam kategori ini termasuk didalamnya adalah material umum yang dapat diproduksi lebih dari 2 pabrikan, tidak seperti material dengan kategori A yang cenderung satu pabrikan yang dalam pengadaannya memerlukan waktu pemesanan yang lama karena harus diproduksi secara specific dan langka di pasaran.
  2. C.      Level C, yaitu material yang proses pengadaannya cepat kurang dari 30 hari. Material kategori jenis ini merupakan barang pasaran sehingga dapat di suplai oleh banyak vendor. Dan khusus barang seperti ini bisa dilakukan kontrak payung yang tujuannya adalah meningkatkan service level dan mengurangi stok persedianya. Biasanya juga termasuk dalam kategori material fast moving.

 

Material berdasarkan Nilai Pemakaian Dalam Satu Periode

  1. A.      Level A, adalah material yang nilai pemakaiannya (harga satuan dikalikan dengan jumlah item) dalam periode tertentu di atas Rp. 500 juta.
  2. B.      Level B, , adalah material yang nilai pemakaiannya (harga satuan dikalikan dengan jumlah item) dalam periode tertentu di antara Rp. 100 juta – Rp. 500 juta.
  3. C.      Level C, , adalah material yang nilai pemakaiannya (harga satuan dikalikan dengan jumlah item) dalam periode tertentu di bawah Rp. 100 juta.

Analisa ABC ini digunakan untuk mengetahui nilai pemakaian dari setiap kelompok item barang sehingga dapat diketahui bagaimana cara melakukan kontrolnya (manual / otomatis).

Sehingga jika dibuat tabel maka akan didapat perlakuan masing masing material adalah sebagai berikut :

Kriteria ServiceLevel Turn over(Tahunan) ReorderAlgorithm ReorderAlgorithm Strategipembelian yang

direkomendasikan

(%)
AAA 99.99 0-1 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/POsecara manual
2. Melakukan Process ROStores menjadi RO Buy secara

manual.

2. Tidak Kontrak payung
AAB 99.99 0-1 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 2. Tidak Kontrak payung
AAC 95-98 3-5 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secaramanual. 2. Tidak Kontrak payung
ABA 97 1-2 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrak payung
ABB 97 2-3 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secaramanual. 2. Tidak Kontrak payung
ABC 95 3-4 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrak payung
ACA 90 3-5 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrak payung
ACB 90 3-5 00 1. Menentukan nilai ROP/ROQsecara manual. 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrakpayung
ACB 93 3-4 00 1. Melakukan Setup OP/ROQsecara manual 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrakpayung
ACC 95 4-6 00 1. Melakukan Setup OP/ROQsecara manual 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Melakukan Process RO Stores menjadi RO Buy secara manual. 2. Tidak Kontrakpayung
BAA 93 0-1 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Tidak Kontrak payung
BAB 95 1-2 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Tidak Kontrak payung
BAC 95 4-6 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Tidak Kontrak payung
BBA 90 4-6 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
BBB 92 4-6 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
BBC 95 6-8 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
BCA 90 6-9 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
BCB 92 6-9 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
BCC 95 6-9 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CAA 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CAB 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CAC 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CBA 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CBB 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CBC 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CCA 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CCB 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.
CCC 87 >5 11 1. Sesuai dengan ROP/ROQ yang dihasilkan oleh ReorderAlgorithm 1. Melakukan Kontrak/PO secara manual.
2. Memprocess RO Stores menjadi RO Buy secara manual 2. Melakukan kontrak payung.

Penjelasan dari seting Analisa ABC :

1. Penentuan kriteria kekritisan (criticality) adalah wewenang dan tanggung jawab user (Bidang Perencanaan & Pengendalian Operasi / Pemeliharaan, Bidang Engineering atau sesuai kebijakan)

2. Penentuan kriteria ketersediaan (avaibility) adalah wewenang dan tanggung jawab Bidang Pengadaan dan Inventory Control

3. Penentuan usage level dalam kriteria stock item material sebagaimana table di atas dilakukan secara otomatis oleh CMMS dalam modul ABC level berdasarkan riwayat pemakaian satu periode sebelumnya.

4. Setiap item material memungkinkan terjadinya perubahan usage level pada setiap periodenya, sehingga akan berubah juga kriteria stock item material nya

5. Usage level D adalah material yang pada periode satu tahun sebelumnya tidak ada pemakaian atau nilai pemakaiannya nol rupiah

6. Kriteria stock item material yang mempunyai usage level D, perlakuan inventory dan pengadaan hanya diberikan kepada item material yang mempunyai kriteria criticality A

7. Tidak semua item material yang masuk dalam kriteria stock item material sebagaimana tabel di atas dapat dilakukan stock di gudang, tetapi harus memperhatikan ha-hal dibawah ini dengan syarat

ketersediaan material tetap terjamin :

i. Jenis kebutuhan (rutin atau non rutin)

ii. Expire date (batas akhir pakai) suatu material

iii. Prosedur penyimpanan dan penanganan material (area, pengaruh lingkungan dll)

8. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kontrak payung adalah sebagai berikut :

i. Efektifitas pembelian meliputi :

 Nilai barang (harga)

 Ketersediaan dipasaran,

 Jarak tempuh,

 Transportasi

ii. Kesiapan pemasok

iii. Kemampuan penyimpanan

9. Item material yang mempunyai kriteria kekritisan A atau B dan mempunyai perputaran material < 4, apabila berdasarkan kajian ekonomis maupun teknis dengan didasari perhitungan life cycle cost dan revenue hasilnya lebih menguntungkan, maka direkomendasikan untuk melakukan kontrak payung.

10. Perhitungan ROP/ROQ juga dapat diberlakukan sama polanya untuk unit yang menggunakan perhitungan Min / Max karena kebutuhan material dihitung dari kebutuhan masing-masing warehouse.

Terdapat dua target utama dalam manajemen material yaitu servis level material yang tinggi dengan persediaan stock material yang rendah, sehingga dicapainya keseimbangan dalam perputaran materialnya. (disarikan dari Panduan Tata Kelola Dan Identifikasi Risiko Bidang Pembangkitan 2009)

Cara Menentukan Tipe Turbin Air

Posted on Updated on


Turbin air merupakan salah satu alat yang berguna dalam pengadaan energi listrik. Sumber tenaga lain yang banyak digunakan pada saat ini cukup banyak mulai dari tenaga fosil, tenaga panas bumi, tenaga surya, sampai tenaga biokimia. Struktur dan komponen untuk masing-masing suber tenaga juga berbeda. Turbin air sendiri mempunyai banyak bentuk dan jenis tipe turbinnya. Masing-masing tipe mempunyai keunggulan dan kelemahan yang berbeda dalam bidang pembangkitan energi.

Di antara banyak tipe turbin yang paling banyak digunakan oleh suatu pembangkitan listrik adalah turbin Francis. Turbin Francis banyak digunakan dalam perancangan karena daerah penggunaannya yang luas. Karena dalam menentukan jenis turbin harus diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dari effisiensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi inilah yang menyebabkan dibuatnya suatu daerah penggunaan yang berbeda untuk masing-masing tipe turbin air.

Bentuk selengkapnya persamaan Euler untuk turbin adalah

H = (u1.c1u – u2.c2u)/g . ηT 

Bila c2u = 0, untuk pengeluaran air yang tegak lurus, bentuk dipermudah menjadi :

H = (u1.c1u)/g . ηT 

Seperti yang ditunjukan oleh gambar dibawah ini,

Bahwa untuk sudu yang punya kelenkungan tajam cocok untuk digunakan di tempat yang mempunyai tinggi jatuh yang besar, dan makin rendah tinggi air jatuh makin memerlukan sudu dengan kelengkungan yang kecil.

Kenyataannya hal tersebut di atas tidak berubah dan sebagai akibatnya timbul pertanyaan, mulai dari mana suatu tinggi air jatuh yang besar dan apa pengaruh selanjutnya, serta bagaimana pengaruh kapasitas aliran Q dan kecepatan putaran n dalam perencanaan turbin air. Berbeda dengan mesin-mesin fluida lainnya seperti turbin uap, kompressor, dan pompa sentrifugal yang semuanya kebanyakan dibuat bertingkat, tetapi pada turbin air harus dibuat dengan satu tingkat yang ukurannya sama dihubungkan dengan hati-hati secara paralel.

Di lain pihak pusat tenaga air ditentukan oleh data-data setempat, perbedaan kombinasi antara tinggi air jatuh dan kapasitas aliran air yang tersedia, dan beberapa kecepatan putar yang diinginkan, karena ada perbedaaan kemungkinan dalam penentuan bentuk roda turbin. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk roda turbin adalah :

H, Tinggi air jatuh

Tinggi air jatuh H = (u1.c1u)/g . ηT, bisa diperoleh daya spesifik yang dihasilkan turbin, bisa dengan harga u1 yang kecil dan c1u yang besar atau sebaliknya. Tetapi u1 = D1 . . n tergantung pada diameter D1 dan kecepatan putar roda turbin n. untuk c1u yang besar akan berpengaruh kepada beberapa bagian dari energi total yang digunakan untuk menghasilkan energi kecepatan c1 dan berapakah sudut c1 yang dipilih atau dipakai.

Gambar Hubungan antara D1 dan b1 Pada Perencanaan Luas Penampang

Q, Kapasitas aliran

Luas penampang saluran A1 tergantung kepada kapasitas aliran air. Dari persamaan kontinuitas A1 = Q/c1, dimana pada roda turbin A1 = D1 . . b1. gambar 2.5.1 jadi di sini ada hubungannya dengan diameter roda turbin, yang berarti ada juga pengaruhnya terhadap besarnya u1. Dengan pemilihan lebar b berarti roda diameter tertentu dan dengan demikian bentuk roda turbin juga tertentu.

n, Kecepatan putar turbin

Dalam pemilihan kecepatan putaran sebaiknya ditentukan setinggi mungkin, karena dengan kecepatan putar yang tinggi akan didapat momen putir yang kecil, poros yang kecil dan diameter roda turbin yang kecil serta ukuran-ukuran  bagian yang lainnya. Kecepatan keliling u1 = D1 . . n meningkat dengan membesarnya n.

 

Kecepatan Spesifik

Kecepatan spesifik nq dipakai sebagai tanda batasan untuk membedakan tipe  roda turbin dan dipakai sebagai suatu besaran yang penting dalam merencanakan (desain) turbin air.

Persamaan untuk nq yang terdapat dari perimbangan, perbandingan dan penyesuian perhitungan yang ada pada bab ini secara panjang lebar yang seharusnya ada penurunannya, diganti dengan penggunaannya di dalam contoh perhitungan dengan angka-angka :

sq  = n .

dimana

nsq                 =  kecepatan spesifik

n              =  kecepatan putar turbin (min-1)

Q             =  kapasitas air (m3/s)

H              =  tinggi air jatuh (m)

Bila disebutkan, berarti nq adalah jumlah putaran roda turbin yang bekerja pada tinggi air jatuh H = 1 m dan kapasitas air Q = 1 m3/s (dengan jumlah putaran tertentu n/menit).

Suatu roda turbin yang bekerja pada tinggi air jatuh yang berbeda dan kapasitas air yang berbeda, serta bekerja pada suatu putaran tertentu dan mempunyai harga nsq yang sama, maka turbin tersebut secara geometri (bentuk) adalah  mirip/serupa. Besar ukuran-ukuran dasarnya yang berbeda, diameter roda turbin dan lebar rodanya juga berbeda, tetapi bentuk sudu, sudut sudu pengarah dan sudut-sudut sudu jalan, perbandingan diameter roda/lebarnya adalah sama.

Di lain pihak suatu turbin bisa direncanakan untuk kecepatan putar n yang tertentu, tinggi air jatuh yang sama, kapasitas air sama, tetapi bekerja dengan tipe sudu yang berbeda. Kecepatan spesifik merupakan dasar dari penentuan bentuk roda turbin. Sehingga untuk kecepatan spesifik yang sama akan didapatkan suatu bentuk roda turbin yang sama atau sebangun.

Untuk jenis turbin Francis juga mempunyai kisaran kecepatan spesifik tertentu. Ketepatan dalam memilih jenis turbin berdasarkan kecepatan spesifik akan didapatkan suatu rancangan turbin dengan efisiensi yang tinggi. Turbin Francis mempunyai kisaran efisien pada kecepatan spesifik sekitar 20 sampai 120, dapat dilihat gambar dibawah ini,

Gambar  Daerah Penggunaan dari Beberapa Jenis Konstruksi yang Berbeda; VOITH

Sumber : Fritz Dietzel diterjemahkan Dakso Sriyono, Turbin Pompa dan Kompresor

Auxiliary Pada Mesin Diesel

Posted on Updated on


Auxiliary pada mesin diesel atau Alat Bantu Mesin Diesel

Mesin Diesel merupakan mesin internal combustion yang mempunyai beberapa alat bantu (Diesel Engine’s Auliriaries ) yaitu :

  1. Alat bantu pada sistem pelumasan
  2. Alat bantu pada sistem pendinginan
  3. Alat bantu pada sistem bahan bakar
  4. Alat bantu pada sistem udara masuk dan gas buang
  5. Alat bantu pada sistem starting
  6. Alat bantu pada kelistrikan

Peralatan bantu Mesin Diesel merupakan rangkaian komponen mesin yang tidak dapat terpisahkan dari komponen utama mesin, kondisi kerja peralatan bantu sangat menunjang keandalan kerja mesin. Sehingga mempelajari peralatan bantu sama saja dengan mempelajari bagaimana kerja mesin diesel secara keseluruhan. Dengan mengetahui cara kerja alat bantu secara baik akan mendorong anda untuk dapat meningkatkan performa dari mesin diesel itu sendiri.

Untuk lebih jelasnya kami ada materi mengenai alat bantu mesin diesel berupa powerpoint (ppt) sebanyak 75 slide. Di dalamnya anda akan mendapatkan penjelasan lebih lengkap karena dilengkapi dengan gambar dengan jelas, yang akan menjadikan anda lebih paham tentang mesin diesel secara keseluruhan. Anda dapatkan dengan cara :

  1. Anda mempunyai email yahoo, google atau email lainnya yang dapat menerima attactment sekitar 10 MB.
  2. Kirim biaya transfer sebesar Rp. 50.000,00 ke rekening BNI Cabang Banjarmasin No.0316946007 a.n. Agus Setiawan
  3. Kirim SMS ke 081347132815 dengan cara ketik Nama email

Contoh : budi098@yahoo.com

4.  Kemudian kami akan mengirim materi powerpoint  alat bantu mesin diesel ke e-mail anda.

Teori Kavitasi

Posted on


Kavitasi dapat terjadi pada pompa ataupun turbin air. Pengertian kavitasi sendiri adalah ledakan ke dalam  yaitu perubahanb fase dari uap air menjadi air secara mendadak. Pada isi isap pada pompa mempunyai tekanan lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga dengan tekanan rendah tersebut air berubah menjadi uap. Uap-uap yang terbentuk tersebut kemudian melalui impeller pompa mengalami perubahan tekanan tinggi secara mendadak. Sehingga menyebabkan uap menjadi air secara mendadak juga. Uap dengan specifik volume yang sangat besar dibandingkan dengan air menyebabkan perubahan volume secara mendadak juga sehingga mengalami implosif atau ledakan ke dalam. Peristiwa tersebut yang dinamakan kavitasi. Kavitasi sangat berbahaya untuk pompa maupun turbin air. Karena akan menyebabkan kerusakan pada impeller maupun casingnya. Untuk menghindari kavitasi maka sisi isap dari pompa ditambah pressure, seperti pada PLTU batubara misalnya, yaitu pada Boiler Feed Pump, Feedwater tanknya di sisi isapnya diletakkan di atas Boiler Feed Pump-nya. Begitu juga dengan turbin air, posisi tailracenya dibuat lebih tinggi daripada posisi turbin air-nya. Cara yang kedua adalah dengan cara menginjeksikan udara bertekanan kedalam turbin air. Tetapi untuk pompa seperti Boiler Feed Pump pada PLTU tidak bisa diaplikasikan karena akan merusak boiler jika dilakukan injeksi udara.

Fungsi Turbocharger Pada Mesin Diesel

Posted on Updated on


Untuk meningkatkan performa dari mesin diesel salah satunya dengan menggunakan turbocharger. Prinsip kerja dari turbocharger adalah memanfaatkan panas gas buang sebagai tenaga untuk memampatkan udara pembakaran sehingga dihasilkan tenaga yang besar. Gas buang hasil pembakaran dari tiap tiap silinder disalurkan melalui exhaust manifold yang selanjutnya dieskpansikan di turbocharger sisi turbin sehingga menghasilkan energi mekanik yang selanjutnya digunakan sebagai tenaga untuk memutar turbocharger di sisi blower. Dengan adanya blower di sisi intake udara pembakaran akan semakin besar disisi intake manifold pada mesin diesel. Berikut adalah gambaran dari prinsip kerja turbocharger.

Gambar

Gambar. Prinsip Kerja Turbocharger

Pada warna orange menggambarkan gas buang dari masing masing silinder  kemudian melalui exhaust manifold kemudian berekspansi di turbin. Sedangkan warna biru menggambarkan bagaimana energi mekanik yang dihasilkan dari turbin yang satu poros dengan blower menghasilkan udara pembakaran yang lebih banyak sehingga menghasilkan performa mesin diesel meningkat. Kenapa dengan udara pembakaran yang lebih banyak akan meningkatkan tenaga yang dihasilkan oleh mesin diesel? Karena dengan udara pebakaran yang lebih banyak maka dapat diinjeksikan bahan bakar yang banyak juga untuk siap meledak di ruang bakar masing masing silinder, sehingga menghasilkan tenaga  yang lebih besar .